Sepenggal Cerita Perjuangan Masa Lalu dari Rumah Cut Meutia

Rumah Cut Meutia atau yang dikenal sebagai sebuah museum ini dulunya adalah rumah tempat tinggal Cut Meutia, seorang pahlawan wanita dari Aceh. Selain terdapat beberapa koleksi benda bersejarah yang berkisah tentang penggalan sejarah di Aceh, suguhan pemandangan alam sekitar museum ini juga sangat asri dan alami siap menyambut wisatawan lokal maupun manca.

Rumah Cut Meutia berada di Kabupaten Aceh Utara. Aceh Utara sendiri memang selalu menawarkan objek wisata yang mengagumkan yang tak ayal menjadi magnet bagi para wisatawan untuk mendatanginya.

Tak sekedar memamerkan keindahan alamnya yang menyejukkan, Aceh Utara ternyata juga menyembunyikan sebuah warisan sejarah perjuangan dimasa sebelum kemerdekaan. Salah satunya adalah Rumah Cut Meutia dimana saat ini dibangun sebagai museum untuk mengenang jasa beliau ketika membela Tanah Air.

Bangsa yang besar adalah sebuah bangsa yang mampu menghargai jasa dari para pahlawannya. Karena itulah tak ada salahnya ketika kita sebagai Warga Negara Indonesia untuk menyempatkan diri mengunjungi rumah yang telah menjadi saksi sejarah perjuangan di masa lalu ini. Apalagi jika ketika itu kita tengah berkunjung ke Kabupaten Aceh Utara.

Selain menawarkan wisata sejarah, hawa yang sejuk dan suasana yang asri juga turut menyambut wisatawan yang datang dari berbagai daerah. Apalagi pemandangan disekitarnya yang memiliki panorama khas Aceh Utara yang bisa dibilang menakjubkan.

Pesona Rumah Cut Meutia yang mewakili Sepenggal Cerita Perjuangan di Aceh

Awal mulanya, sebelum dijadikan sebagai museum, rumah ini merupakan rumah tempat tinggal salah satu keturunan beliau. Hingga akhirnya keluarga Cut Meutia sepakat untuk mengubahnya sebagai museum. Hal ini diwujudkan ditahun 1982, dimana ketika itu pemerintah mulai merenovasi bangunan rumah tersebut untuk didesain sebagai museum.

Sebagaimana rumah adat Aceh pada umumnya, Rumah Cut Meutia ini juga memiliki arsitektur yang indah dengan kontruksi yang kokoh. Rumah yang berbentuk rumah panggung ini tercatat memiliki ketinggian 3 meter dan memiliki 16 tiang penyangga.

Bagi masyarakat Aceh, Rumoh (sebutan rumah adat Aceh) bukan hanya sekedar tempat tinggal namun juga sebagai ekspresi terhadap keyakinan penghuninya terhadap Tuhan. Pengaruh keyakinan ini bisa nampak dari bentuk bangunan yang cenderung memanjang dari timur hingga ke barat. Jadi, bagian depannya akan menghadap ke timur sedangkan bagian yang sakral (belakang) berada di barat. Adapun penunjukkan arah barat ini adalah salah satu upaya masyarakat Aceh untuk membangun sebuah garis imajiner dengan Kak’bah.

Keindahan arsitekturnya bisa dilihat mulai dari bagian pintu masuknya. Di bagian depan wisatawan akan menemukan tangga kayu untuk naik dan ukiran indah khas Aceh yang diukir cantik di depan pintu rumah. Kesan klasik semakin terasa dengan atap rumah yang terbuat dari rumbia.

Sebagaimana museum pada umumnya, disini juga terdapat beberapa koleksi lukisan dan koleksi foto dari Rumah Cut Meutia sebelum direnovasi. Tak ketinggalan pula foto pimpinan pasukan kolonia Belanda dimasa itu. Menambah kesan khas Aceh, di museum ini wisatawan akan menemukan 2 Rapai, yakni alat musik tradisional khas Aceh.

Di Museum Cut Meutia ini, pengunjung tak hanya bisa melihat rumah tempat tinggal beliau, namun juga bisa menyaksikan sebuah monumen yang dibangun khusus sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa beliau.

Monumen yang dinamakan monumen Cut Meutia ini terletak di kompleks museum. Pada monumen ini juga dituliskan dengan singkat sejarah perjuangan beliau ketika melawan penjajah hingga akhirnya beliau dan pasukannya gugur pada tanggal 24 Oktober 1910.

Ada juga beberapa benda tradisional sangat menarik yang bisa ditemui di museum. Salah satunya yakni Kroeng yang bisa ditemukan di halaman rumah. Kroeng sendiri dulunya digunakan sebagai tempat penyimpanan padi. Pengunjung bisa menemukannya dengan mudah karena letaknya tak jauh dari rumah. Setelah Kroeng, pengunjung akan menemukan Jeungki yakni sebuah benda yang sering digunakan masyarakat Aceh untuk menumbuk padi.

Di museum ini juga terdapat sebuah bangunan berukuran 3×4 meter mirip seperti balai. Dari cerita yang beredar, tempat ini dulunya sering digunakan sebagai tempat rapat para pejuang untuk menyusun strategi perlawanan terhadap Belanda.

Selain benda tradisional dan bangunan yang bernilai sejarah tinggi, daya tarik Rumah Cut Meutia ini juga terletak pada keindahan sekitarnya. Alamnya yang asri, rindang dengan penataan kompleks museum yang sangat rapi membuat museum ini jadi magnet para wisatawan lokal maupun manca.

Dulunya sebelum terjadi konflik di Aceh, Rumah Cut Meutia menjadi salah satu tempat penyimpanan beberapa benda bersejarah mulai dari baju adat, senjata serta beberapa bukti sejarah lainnya. Beberapa benda dan bukti sejarah yang dulunya ada di museum Cut Meutia kemudian dipindahkan ke Museum Negeri Aceh. di museum Cut Meutia sendiri masih ada, hanya jumlahnya tidak sebanyak dulu.

Kegiatan yang Bisa Dilakukan di Rumah Cut Meutia

Menjadi sebuah tempat wisata yang memiliki nilai sejarah tinggi menjadikan tempat ini sangat sering dikunjungi wisatawan. Penggalan cerita di masa lalu menjadi daya tarik tersendiri yang perlu diulas dan diketahui khususnya oleh anak-anak dijaman sekarang. Adapun beberapa hal yang bisa dilakukan di lokasi wisata ini antara lain:

Berlibur sambil belajar

Bagi pengunjung yang mencintai sejarah, tempat ini menjadi destinasi yang tak boleh dilewatkan. Ketika bertandang kesini, artinya pengunjung telah mengapresiasi jasa seorang pahlawan wanita Aceh dimasa perjuangan dulu. Selain itu, mampir kesini akan membuat pengunjung kenal lebih dekat dengan sosok Cut Meutia dan juga berbagai benda bernilai sejarah yang ada disini.
Bagi pengunjung yang suka dengan seni arsitektur, museum yang menyajikan desain rumah dan bangunan berarsitektur Aceh yang kental ini jelas menjadi daya pikat tersendiri.

Menikmati keindahan alam disekitaran museum

Jika lelah berkeliling museum, salah satu hal yang paling menyenangkan adalah beristirahat dan bersantai disekitar museum. Sebagaimana yang diulas diatas, museum Cut Meutia ini terletak di dataran tinggi Aceh Utara. Hawa yang sejuk, dingin dan menentramkan bisa membuat rasa lelah dan penat lekas hilang sehingga fikiran bisa lebih fresh.

Akses menuju Rumah Cut Meutia

Rumah Cut Meutia terletak di Kabupaten Aceh Utara tepatnya di Desa Masjid Pirak, Kecamatan Matang Kuli. Untuk bisa sampai di museum ini, pengunjung diharuskan untuk menempuh jarak setidaknya 31 km. Atau jika berangkat dari Lhoksumawe, cukup dengan mengendarai kendaraan kisaran 1 jam, Anda bisa sampai di lokasi.

Karena letaknya yang mudah dijangkau, jadi ada beberapa alternative jalan yang bisa dipilih wisatawan. Salah satu akses jalan yang paling mudah untuk menjangkaunya yakni melewati jalan Medan-Banda Aceh. Disini wisatawan hanya cukup diharuskan mengikuti alur jalan hingga menuju ke Kecamatan Matang Kuli.

Tidak jauh dari pusat kecamatan Matang Kuli, Rumah Cut Meutia bisa dijangkau cukup cepat karena hanya berjarak kisaran 3km saja. Untuk masalah kondisi jalannya, kondisi jalan disini sudah cukup baik yakni beraspal meski di beberapa bagian ditemui lubang-lubang.

Meski begitu hal diatas sepertinya tidak jadi masalah mengingat ketika perjalananan wisatawan akan disuguhi dengan pemandangan hijaunya sawah yang seakan menjadi pintu masuk mengawal menuju lokasi.

Fasilitas di Rumah Cut Meutia

Masalah fasilitas, pengelola setempat telah menyiapkan segala fasilitasnya dengan sangat lengkap. Beberapa fasilitas umum tersedia disini mulai dari tempat ibadah berupa masjid yang bernama Masjid Pirak, toilet umum hingga tempat parkir yang cukup luas. Tak hanya itu, bagi pengunjung yang ingin tahu lebih detail terkait kisah hidup Cut Meutia dan kisah disetiap sudut museum, disini juga disediakan pemandu.

Jika bertandang ke Rumah Cut Meutia ini, disarankan untuk membawa makanan sendiri. Memang disini disediakan warung dan kantin sederhana yang bisa digunakan untuk bersantai sambil menikmati makanan. Namun jumlahnya masih sedikit. Sedangkan untuk masalah penginapan, wisatawan bisa bermalam di Kota Lhoksukon yang jaraknya dekat museum.

Leave a Comment

Scroll back to top