Pantai Manohara: Si Cantik Aceh yang Kini Telah Menghilang

Pantai Manohara – Sebuah pantai yang dulu sangat indah layaknya surga yang tersembunyi di Aceh. Seketika memasuki kawasan pantai, wisatawan akan disambut dengan keindahan pasir hitamnya yang memukau. Segala aktivitas khas pantai mulai dari memancing, berenang, atau bersantai menikmati angin pantai bisa dinikmati disini.

Berada di Pidie Aceh tepatnya di Kecamatan Meureudu, kawasan Pantai Manohara bisa dicapai dengan mudah menggunakan angkutan umum dengan jarak tempuh kisaran 3 jam dari Aceh. Tak hanya menikmati keindahan pantai, disini wisatawan juga bisa mencicipi kuliner khas Aceh seperti mie Aceh ataupun menyeruput es kelapa muda yang menjadi minuman khas pantai.

Panorama alamnya yang menggoda dan fasilitasnya yang sangat lengkap membuat banyak wisatawan ketagihan mendatanginya. Tak hanya terkenal di sekitaran Aceh, pantai ini juga sangat santer bagi wisatawan asing. Setiap akhir pekan, pantai Manohara tak pernah sepi pengunjung.

Namun sekelumit ulasan diatas hanyalah kenangan masa lalu. Sekarang pantai ini hanyalah tinggal kenangan. Sang surga yang menghilang.

Keindahan Pantai Manohara di Pidie Aceh yang Dirindukan

Objek wisata pantai merupakan satu wisata yang paling disukai wisatawan, khususnya wisatawan yang ingin bertandang ke Aceh. Salah satu objek wisata pantai yang cukup terkenal di Aceh yakni Pantai Manohara.

Meskipun ketenarannya tidak seperti pantai yang terletak di Tanah Rencong atau pantai di Sabang, namun hawa sejuk yang khas dari pantai Manohara bisa menjadi pemuas dahaga bagi wisatawan yang merindukan suasana pantai yang sepoi-sepoi.

Nama Manohara yang dijadikan sebagai nama pantai ini sebenarnya tidak diambil dari nama seorang artis yang kita kenal yakni Manohara Odelia Pinot. Ya, nama pantai cantik ini berasal dari sebuah tulisan spanduk pedagang sekitar yang terbentang besar tepat di pintu masuk pantai.

Konon dari cerita yang beredar, pedagang kafe tersebut memanfaatkan nama tenar sang artis karena ketika itu sedang santer terjadi kisruh rumah tangganya. Dan karena kafe tersebut lokasinya cukup dekat dengan pintu masuk, maka banyak orang yang kemudian lebih mengenal pantai ini dengan nama Manohara.

Baca Juga : Pantai Thailand Simeulue: Surga di Aceh yang Cantik Menawan

Sebelum banyak dikenal wisatawan, pantai ini dikenal dengan nama Meuredu. Tak lain karena lokasinya yang berada di kecamatan Meuredu atau tepatnya di desa Mns. Baleek. Meski begitu, sampai saat ini nama yang paling santer dikalangan wisatawan baik itu dalam ataupun luar kota adalah Manohara. Nama yang lebih mudah diingat.

Mirip dengan pantai lainnya, Pantai Manohara memiliki hamparan pasir yang luas. Banyak wisatawan yang menggunakannya untuk bermain voli pantai, sepak bola dan lain sebagainya. Saking cantiknya Manohara, pantai ini kerap dijadikan sebagai lokasi prewedding. Spot yang indah dengan hamparan pasir yang luas serta pemandangan alam di pagi dan sore harinya sangat menenangkan.

Lelah dengan kegiatan bermain air, wisatawan akan dimanjakan dengan wisata kuliner yang disediakan disekitaran pantai. Deretan kafe dan kios di sepanjang garis pantai siap menyambut pengunjung dengan makanan khas Aceh dan minuman segarnya. Beragam fasilitas bisa dinikmati di pantai ini mulai dari gitar, catur, tenis meja dan beberapa fasilitas pendukung lainnya.

Akses menuju ke pantai terbilang cukup mudah. Dari Aceh, wisatawan bisa menggunakan kendaraan pribadi ataupun kendaraan umum seperti mobil pick up yang telah dimodifikasi (labi-labi). Tarif naik labi-labi ini cukup terjangkau sekitar 10 sampai 20ribu Rupiah.

Bagi yang membawa kendaraan pribadi tidak perlu khawatir karena Pantai Manohara memiliki tempat parkir yang cukup luas. Dengan harga parkir standar untuk motor seharga 2ribu Rupiah dan mobil seharga 5ribu Rupiah, wisatawan bisa aman dan nyaman menitipkan kendaraannya.

Ragam keindahan dan aktivitas menyenangkan bisa dilakukan di pantai ini. Sayangnya itu tinggalah kenangan. Kini kisah pantai Manohara, sang surga tersembunyi sudah ditutup. Pantai yang dulu menjadi salah satu lokasi favorit wisatawan kini sudah ditutup permanen. Bagaimana kisahnya?

Pantai Manohara ditutup

Semenjak ada bencana tsunami yang menimpa Kabupaten Pidie Aceh, Pantai Manohara kini ditutup. Pasca musibah, warga setempat menutup total akses menuju ke lokasi. Padahal biasanya setiap akhir pekan pantai ini tak pernah kosong pengunjung.  Kafe dan warung makan disekitaran pantai ditutup dan jalan akses menuju pantaipun diblokir dengan ranting dan tulisan STOP.

Tepatnya tanggal 7 Desember 2016, Rabu pagi, gempa yang berkekuatan 6.5 SR menghantam kabupaten Pidie dan meluluhlantakkan ratusan rumah dan toko disekitarnya. Dilaporkan ketika itu ada setidaknya 101 orang yang tewas dengan ratusan lainnya yang mengalami cedera.

Meski banyak rumah dan bangunan yang rusak, namun banyak kafe yang terbuat dari kayu terletak dipinggiran pantai Manohara masih utuh berdiri. Padahal pantai ini berjarak hanya 18km dari pusat gempa. Bisa dibilang bahwa ini adalah tempat yang memiliki jarak terdekat dari pusat gempa. Dan ini juga sebab mengapa penduduk sekitar menutupnya.

Pasca gempa yang terjadi, tanah yang berada di Pantai Manohara telah beralih bentuk. Dikawasan pantai, terdapat banyak lubang yang memanjang hingga beberapa meter dan juga banyak tanah yang terbelah. Bahkan disekitaran pantai keluar air belerang.

Namun yang menjadi alasan utama penutupan total pantai ini bukanlah karena bentuk pantainya yang berubah. Salah satu alasan penutupan yakni karena dulu cukup banyak muda-mudi yang datang ke pantai tersebut dan melakukan perbuatan melanggar syariat.

Penduduk lokalpun percaya bahwa itu adalah salah satu hal yang mengundang malapetaka berupa bencana yang menyerang Kabupaten Pidie. Apalagi mengingat Pantai Manohara memiliki jarak terdekat dengan pusat gempa.

Menindaklanjuti hal tersebut kemudian dilakukanlah rapat yang melibatkan aparatur desa dan masyarakat lokal untuk membahas nasib selanjutnya Pantai Manohara. Dari rapat ini kemudian diketahui jika banyak warga yang kemudian menginginkan pantai ini untuk ditutup total dan akhirnya keputusan ini disetujui.

Jadi artinya semenjak itu tidak ada lagi wisatawan yang bisa menikmati kecantikan dan kemolekan Pantai Meuredu atau Pantai Manohara ini. Siapapun yang mendatanginya akan dihalangi dengan blokir jalan akses menuju pantai.

Nasib Pantai Manohara Kini

Kini Pantai yang penuh kemolekan ini telah beralih fungsi sebagai peternakan unggas. Kafe-kafe yang dulunya tak pernah sepi menyambut para wisatawan kini telah beralih fungsi menjadi bangunan-bangunan terlantar.

Memang bangunan-bangunan kafe dari kayu ini beberapa ada yang masih berdiri kokoh ada pula yang sudah roboh, namun keadaannya sangat berbeda dari dulu. Bangunan kafe yang masih berdiri tidak dibongkar, melainkan dibiarkan melapuk dengan sendirinya. Sedangkan untuk bangunan kafe yang roboh tampak sangat tak terawat, bisa nampak dari banyaknya ditumbuhi tumbuhan menjalar yang menutupinya.

Kejadian gempa yang mengguncang kabupaten Pidie terbilang sangat dekat dengan pantai Manohara. Hal ini jugalah yang membuat pantai Manohara dianggap sebagai pembawa sial oleh warga sekitar karena banyaknya muda-muda yang berkunjung ke pantai tersebut yang mengindahkan syariat sehingga mengundang malapetaka besar.

Leave a Comment

Scroll back to top