Menengok Sejarah dan Budaya Kampung Keling Medan

Sejarah dan Budaya Kampung Keling Medan

Kampung Madras atau yang biasa pula dikenal dengan sebutan Kampung Keling Medan merupakan nama sebuah kawasan yang memiliki luas kurang lebih 10 hektar di Sumatra Utara, Kota Medan. Di Kampung Keling terdapat komunitas warga India dalam jumlah banyak. Kawasan Kampung Keling ini berlokasi tepatnya di antara kecamatan Medan Petisah dan Medan Polonia.

Berwisata ke Medan, traveler dapat singgah di Kampung Madras yakni landmark Kota Medan. Disebut pula sebagai Kampung Keling, sebab mengikuti julukan populer etnis India yang kebanyakan berkulit gelap atau keling.

Sejarah Kampung Keling

Kawasan Kampung Keling Medan awalnya disebut “Patisah”, kemudian seiring berjalannya waktu mengalami perubahan nama jadi “Kampung Madras” supaya mencerminkan bahwa kawasan tersebut merupakan tanah asal warga keturunan bangsa India.

Dalam sejarahnya Kampung Keling di Kota Medan bermula sejak awal abad 19. Ketika itu, ada banyak orang-orang dari India Tamil datang dari negaranya ke Indonesia untuk menjadi pekerja, yakni sebagai buruh perkebunan tembakau. Pada masa itu, para pemilik kebun tembakau memang lebih suka memakai tenaga kerja impor India sebab mereka dikenal sebagai pekerja yang giat dan patuh pada atasan mereka.

Hingga semakin lama, makin banyaklah orang-orang dari India Tamil bekerja di Medan. Lambat laun tidak hanya orang-orang India Tamil, tetapi orang-orang India Cheyttar dan Punjab juga berdatangan ke Medan dalam rangka mengadu nasib. Selain menjadi buruh di perkebunan, pendatang dari India itu juga bekerja dalam bidang konstruksi dan sebagai pedagang.

Mungkin kalian tertarik : Wisata Aceh Tamiang : 14 Tempat Yang Wajib Di Kunjungi

Dalam catatan BWS (Badan Warisan Sumatera), rombongan pertama Tamil yang menginjakan kaki di Medan yakni sebanyak 25 orang di tahun 1873. Rombongan pertama tersebut dipekerjakan oleh pengusaha berkebangsaan Belanda bernama Nienhuys yang merupakan pemilik perkebunan tembakau. Kemudian perkebunan tembakau tersebut terkenal dengan nama tembakau Deli.

Pengusaha tembakau tersebut menjadikan tanah Deli termasyur di kancah perdagangan internasional. Saking terkenalnya di masa itu, tanah perkebunan tembakau tersebut dijuluki sebagai “Tanah 1 juta Dollar”. Kemudian semakin banyak para buruh yang datang dari India sebagai buruh perkebunan, penjaga malam, supir, pengendali kereta lembu, maupun pekerja untuk membangun jalanan dan waduk.

Ketika kolonial Belanda mendirikan cabang Bank De Jawasche di Medan tahun 1879, maka sejumlah orang Sikh bekerja sebagai penjaga. Dikarenakan kesempatan ekonomi dan situasi di Medan pada masa itu sangat bagus, maka sebagian pendatang dari India juga membuka peternakan lembu. Hal tersebut didukung pula dengan meningkatnya permintaan terhadap pasokan susu ke Belanda. Kemudian banyak pendatang India yang berhasil dengan usaha peternakan lembu hingga orang-orang keturunan India di Medan terkenal sebagai para produsen susu lembu murni.

Di akhir 1930-an, orang-orang Sikh Medan telah mencapai 5000 orang. Kampung Keling Medan sampai saat ini merupakan jantung budaya India di Kota Medan. Lokasinya berada di sekitar area Zainul Arifin yang dahulunya jalanan-jalanan di area tersebut mempunyai nama khas India, seperti Jalan Bombay, Jalan Madras, Jalan Kalkuta, Jalan Ceylon dan lainnya. Namun kini, nama-nama jalan tersebut telah mengalami perubahan.

Sekitar tahun 1950-an, Kampung Madras yang awalnya masih sangat didominasi orang-orang keturunan India mulai berkurang jumlah keturunan India-nya, karena mereka sudah mulai menyebar untuk tinggal di lokasi lainnya. Kampung Keling Medan semenjak itu, mulai banyak dihuni pula oleh orang-orang yang merupakan keturunan Tionghoa.

Objek Menarik di Kampung Keling

Dengan keberadaan Kampung Keling , hal tersebut menambah ragam tempat wisata Indonesia khususnya di Medan. Kampung Keling menjadi detinasi wisata sangat menarik bagi para penikmat keunikan kota tua berkonsep sejarah dan budaya. Kampung Keling seperti Little India berbagai negara lain di dunia. Kampung Keling Medan ini telah menjadi salah satu destinasi wisata kebudayaan yang menarik. Para traveler bisa menemukan berbagai bangunan tua berarsitektur India.

Di kawasan Kampung Keling Medan ini terdapat sebuah kuil Hindu paling tua di Kota Medan yaitu Kuil bernama Sri Mariamman. Dua kuil yang terkenal yakni kuil bernama Shri Mariaman dan Subramaniem. Shri Mariamman, kuil tersebut dibangun tahun 1884. Terdapat banyak hiasan berupa puluhan patung sebagai simbol dewa-dewa.

Selain sebagai tempat peribadatan, Shri Mariamman menjadi pusat berkegiatan budaya. Bagi warga Kampung Keling yang keturunan India dan beragama hindu, akan melakukan persembahyangan tiap Jum’at sore di Kuil Shri Maryaman. Kuil ini merupakan wadah masyarakat tamil saling berinteraksi bersama sesame keturunan tamil yang tidak tinggal di kawasan Kampung Keling Medan.

Untuk memasuk ke kuil, wisatawan tak bisa sembarang masuk karena wisatawan hanya diperbolehkan mengunjungi kuil di jam tertentu, antara lain pukul 6 pagi hingga 12 siang. Kemudian pukul 4 sore hingga 9 malam. Selain itu, ketika hendak masuk kuil Anda harus melepaskan alas kaki.

Tak hanya ada kuil Hindu paling tua, di Kampung Keling juga terdapat Vihara paling besar di Kota Medan yaitu Vihara bernama Gunung Timur. Di Kampung Keling, pengunjung juga akan menemukan Sekolah Khalsa atau yang biasa disebut sekolah Sikh dan sekarang bernama Khalsa English School. Sekolah tersebut dahulu pernah terkenal sebab merupakan sekolah satu-satunya di Medan yang menerapkan pelajaran menggunakan bahasa Inggris.

Selain bisa menikmati keindahan bangunan-bangunan bersejarah, traveler yang mengunjungi Kampung Keling Medan juga dapat menyantap ragam makanan yang sangat khas India. Selain itu, belanja pula pakaian dan kain-kain indah khas India.

Keragaman Kota Medan berasal dari berbagai etnis antara lain Melayu, Arab, Cina, Batak, Jawa, Tamil, dan etnis lainnya yang melebur jadi satu di dalam pertumbuhan salah satu kota besar Indonesia. Orang-orang dengan keberagaman tersebut tinggal bersama-sama dan hidup berdampingan.  

Mayoritas orang-orang Tamil Madras beragama Hindu tetapi ada pula yang beragama Islam dan membentuk KMT (Komunitas Muslim Tamil). Tidak hanya itu, Kampung Keling Medan juga memiliki masjid Ghaudiyah dengan desain arsitekturnya yang kental nuansa India. Namun sayang, keindahan masjid itu ditutupi oleh banyaknya gedung-gedung. Tanah pekuburan bagi Muslim merupakan tanah wakaf dengan luas sekitar 1.000 meter persegi yang dahulu dihibahkan oleh Sultan Deli.

Selain bisa menikmati keindahan bangunan-bangunan bersejarah, traveler yang mengunjungi Kampung Keling Medan juga dapat menyantap ragam makanan yang sangat khas India. Selain itu, belanja pula pakaian dan kain-kain indah khas India.

Festival di Kampung Keling

Apabila wisatawan berkunjung ke Kampung Keling Medan sekitar Oktober – November, maka berdasarkan kalender Caka umat Hindu bulan Aswayuja, terdapat perayaan bernama Deepavali atau yang biasa pula disebut Diwali. Perayaan festival ini menjadi perlambang kemenangan kebaikan atas keburukan. Lampu-lampu dan lilin-lilin dinyalakan sebagai simbol harapan kehidupan yang diterangi cahaya dan kebaikan. Diwali dirayakan selama 5 hari secara berturut-turut.

Deepavali atau Diwali adalah salah satu perayaan festival paling populer dan ditunggu-tunggu bagi masyarakat keturunan India. Orang-orang Sikh dan Jain menganggap festival Diwali sebagai perayaan yang  hidup dan sebagai ajang memperkuat persaudaraan diantara teman dan keluarga. Sedangkan bagi orang Jain, Diwali juga menandakan dimulainya tahun baru Jain.

Penutup

Mungkin itu saja yang dapat kami rangkum mengenai Kampung Keling Medan, semoga dapat menjadi referensi kalian yang mau berlibur ke sana. Kurang lebihnya mohon maaf, ditunggu feedback positifnya sobat.

Leave a Comment

Scroll back to top